TATA CARA SHALAT GENAP & WITIR

Oleh: Syekh Muhammad Shalih al-Munajjid
 
Shalat witir termasuk ibadah teragung untuk bertaqarrub kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala , hingga sebagian ulama -dari ulama Hanafiah- berpendapat bahwa shalat witir termasuk bagian dari kewajiban. Akan tetapi yang shahih adalah termasuk sunnah muakkad yang selayaknyalah seorang muslim menjaga dan tidak meninggalkannya.
 
Imam Ahmad Rohimahulloh berkata: "Barangsiapa meninggalkan shalat witir, maka dia adalah seorang laki-laki buruk yang persaksiannya tidak layak di terima."
 
Ini menunjukkan bahwa shalat witir sangat ditekankan.
As-Syaf'u secara bahasa adalah pasangan, yaitu jumlah yang berpasangan, sebalikanya witir adalah sendirian. Sunnah-sunnah yang telah tetap setelah shalat isya ada tiga macam:
1. Shalat sunnah ba'diyah isya, dua rakaat.
2. Shalat malam, shalat semampunya dan semaunya; dua rakaat, dua rakaat.
3. Shalat witir, boleh witir dengan satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, tujuh rakaat, atau sembilan rakaat langsung sekali salam.
Mungkin tata cara shalat witir bisa kita simpulkan dalam poin-poin berikut ini:
 

Waktu shalat witir:
Shalat witir dimulai setelah selesai shalat isya', sekalipun shalat isya' tersebut telah dilakukan secara jama' taqdim dengan maghrib, hingga terbit fajar. Berdasarkan sabda Nabi Sholallohu `alaihi wa sallam :
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَمَدَّكُمْ بِصَلاةٍوَهِيَ الْوِتْرُ جَعَلَهُ اللَّهُ لَكُمْفِيمَا بَيْنَ صَلاةِ الْعِشَاءِ إِلَىأَنْ يَطْلُعَ الْفَجْرُ
"Sesungguhnya Allah Subhanaahu wa Ta`ala telah menambah bekal pada kalian dengan sebuah shalat, yaitu witir. Allah Subhanaahu wa Ta`ala telah menjadikannya bagi kalian pada waktu di antara shalat isya' hingga terbit fajar." (HR. at-Tumudzi (425) dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahihut Turmudzi)
 
Mana yang lebih utama, mengawalkan atau mengakhirkannya?
Sunnah menunjukkan bahwa bagi orang yang sangat berambisi untuk berdiri shalat witir di akhir malam, maka yang utama baginya adalah mengakhirkannya, karena shalat di akhir malam lebih utama, dan shalat pada saat itu disaksikan. Dan barangsiapa takut tidak bisa bangun di akhir malam maka hendaknya dia witir sebelum tidur. Berdasarkan hadits Jabir t, dia berkata, Rasulullah Sholallohu `alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ خَافَ أَنْ لا يَقُومَمِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُوَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْآخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلاةَ آخِرِاللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ
"Barangsiapa takut tidak bisa bangun di akhir malam, maka hendaknya dia shalat witir di awal malam, barangsiapa bersemangat yakin untuk bangun di akhir malam maka hendaknya dia witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam disaksikan, dan itu lebih utama." (HR. Muslim (755))
 
Imam an-Nawawi Rohimahulloh berkata: "Inilah yang benar, dan telah mencakup hadits-hadits umum lain yang mengemukakan keutamaan yang benar dan jelas ini. Di antara hadits tersebut adalah ucapan Abu Hurairah Rodiallohu `anhu : "Kekasihku (yaitu Muhammad Sholallohu `alaihi wa sallam ) telah memberikan wasiat kepadaku agar aku tidak tidur kecuali sesudah shalat witir." Ini mencakup orang yang tidak yakin bisa bangun di akhir malam." (Syarah Muslim 3/277)
 
Jumlah rakaat:
Minimal jumlah rakaat adalah satu rakaat. Berdasarkan sabda Nabi Sholallohu `alaihi wa sallam :
الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْآخِرِ اللَّيْلِ
"Witir itu satu rakaat di akhir malam." (HR. Muslim (752))
 
Juga sabda Nabi Sholallohu `alaihi wa sallam :
صَلاةُاللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَأَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةًوَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
"Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat, maka jika salah seorang di antara kalian takut datangnya shalat subuh, maka shalatlah satu rakaat yang mengganjilkan (menjadikan witir) shalat yang telah dikerjakan." (HR. al-Bukhari (911), Muslim (749))
 
Jika seseorang telah mencukupkan diri dengan satu rakaat tersebut, maka dia telah melakukan sunnah. Boleh juga witir dengan tiga, lima, tujuh dan sembilan.
 
Jika seseorang berwitir dengan tiga rakaat maka baginya boleh memilih dua cara yang keduanya disyariatkan:
 
Pertama, shalat tiga rakaat sekaligus dengan satu kali salam. Berdasarkan hadits Aisyah Rodiallohu `anha , dia berkata:
"Adalah Nabi Sholallohu `alaihi wa sallam tidak salam pada dua rakaat witir." Dan dalam satu lafazh: "Beliau witir dengan tiga rakaat, beliau tidak duduk (tasyahhud) kecuali di akhirnya." (HR. an-Nasa`i (3/234), al-Baihaqi (3/31), dan Imam Nawawi j  berkata di dalam al-Majmu' (4/7) hadits diriwayatkan oleh an-Nasa'i dengan sanad hasan, dan al-Baihaqi dengan sanad shahih)
 
Kedua, salam pada rakaat kedua, kemudian witir dengan satu rakaat. Berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar Rodiallohu `anhu , bahwasannya dia  Rodiallohu `anhu memisahkan antara shalat genap dan witir beliau dengan satu salam. Dan dia mengabarkan bahwa Nabi Sholallohu `alaihi wa sallam mengerjakan yang demikian. (HR. Ibnu Hibban (2435) dan Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (2/482): Sanadnya kuat.)
 
Adapun jika berwitir dengan lima atau tujuh, maka shalat tersebut dilakukan bersambung, tidak bertasyahud kecuali satu tasyahud di akhirnya kemudian salam. Berdasarkan riwayat Aisyah Rodiallohu `anha dia berkata:
كَانَرَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوْتِرُ مِنْ ذَلِكَبِخَمْسٍ لاَ يَجْلِسُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ فِيْ آَخِرِهَا
"Adalah Rasulullah Sholallohu `alaihi wa sallam shalat dari bagian malam sebanyak 13 rakaat, dari ke-13 rakaat tersebut beliau witir lima rakaat, beliau tidak duduk pada kelima rakaat tersebut kecuali di akhirnya." (HR. Muslim (737))
 
Dari Ummu Salamah Rodiallohu `anha dia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُوْتِرُ بِخَمْسٍوَبِسَبْعٍ وَلاَ يُفَصِّلُ بَيْنَهُنَّ بِسَلاَمٍ وَلاَ كَلاَمٍ
"Adalah Nabi Sholallohu `alaihi wa sallam witir dengan lima dan tujuh rakaat, beliau tidak memisahkan rakaat-rakaat tersebut dengan salam, tidak juga dengan ucapan." (HR. Ahmad (6/290), an-Nasa`i (1714), dan Imam Nawawi Rohimahulloh   berkata: "Sanadnya bagus." Al-Fathur Rabbani (2/297), dan dishahihkan oleh al-Albani dalam shahih an-Nasa`i)
 
Jika witir dengan sembilan rakaat, maka shalat tersebut disambung dan duduk untuk tasyahud pada rakaat kedelapan, kemudian berdiri tanpa salam, kemudian bertasyahud pada rakaat yang kesembilan kemudian salam. Ini berdasarkan riwayat dari Aisyah Rodiallohu `anha seperti yang disebutkan dalam Shahih Muslim (746) bahwa:
كَانَ َيُصَلِّي تِسْعَرَكَعَاتٍ لا يَجْلِسُ فِيهَا إِلا فِيالثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُوَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلا يُسَلِّمُثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّ التَّاسِعَةَثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُوَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًايُسْمِعُنَا
"Nabi Sholallohu `alaihi wa sallam shalat sembilan rakaat, beliau tidak duduk (untuk tasyahud) dalam shalat tersebut kecuali pada rakaat kedelapan. Di dalamnya beliau berdzikir, bertahmid, dan berdo'a, kemudian beliau bangkit dan tidak salam, lalu berdiri shalat pada rakaat yang kesembilan. Kemudian beliau duduk, berdzikir kepada Allah, bertahmid dan berdo'a kepada-Nya kemudian beliau salam dengan salam yang beliu perdengarkan kepada  kami."
 
Jika seseorang witir dengan 11 (sebelas) rakaat, maka dia salam pada setiap dua rakaat, dan witir darinya dengan satu rakaat.
 
Kesempurnaan minimal dalam shalat witir, dan apa yang dibaca darinya:
Kesempurnaan minimal dalam witir adalah seseroang shalat dua rakaat kemudian salam, lalu shalat satu rakaat kemudian salam. Boleh juga menjadikannya satu kali salam, akan tetapi dengan satu kali tasyahud, tidak dengan dua kali tasyahud, sebagaimana telah diterangkan.
 
Pada rakaat pertama dari shalat witir tiga rakaat dibaca [سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلىَ] secara sempurna. Pada rakaat kedua, membaca al-Kafirum, dan pada rakaat ketia membaca al-ikhlash.
Imam an-Nasa`i (1729) meriwayatkan dari Ubay bin Ka'b dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِبِسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى وَقُلْيَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَاللَّهُ أَحَدٌ
"Adalah Rasulullah r pada shalat witir membaca [سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلىَ], dan [قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ] dan [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ]" (Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih an-Nasa`i)
 
Dalam Sunan Ibnu majah (1173) ada tambahan setelah surat al-Ikhlash: "Dan Mu'wwidzatain (al-Falaq dan An-Nas)", dishahoihkan oleh al-Albani. Hal itu juga terdapat dalam Shahih Ibnu Hibban (2432) dari hadits Aisyah dihasankan oleh Syu'aib al-Arna'uth, dan di dalam Mustadrak Hakim (3920). Hakim berkata: Shahih berdasarkan kriteria Bukhari dan Muslim. Dan ucapan Hakim Inipun dibenarkan oleh adz-Dzahabi dalam al-Talkhish))[1]
Seluruh sifat dalam shalat witir ini telah datang penyebutannya dalam sunnah. Yang lebih sempurna adalah agar seorang muslim tidak konsisten dengan satu sifat saja, akan tetapi hendaknya dia melakukan sifat ini sekali, kemudian sifat yang lain, demikian seterusnya. Hingga dia telah melakukan seluruh sunnah.
 
Sebagian manusia menyangka bahwa shalat genap itu adalah sunnah ba'diyah Isya', padahal tidak. Telah datang di dalam Fatawa Lajnah Da'imah (7/255): "Sunnah ba'diyah Isya` adalah dua rakaat, berbeda dengan syaf' dan witir."
 
Doa setelah witir[2]
 
Setelah Rasulullah Sholallohu `alaihi wa sallam melakukan shalat witir, begitu salam beliau langsung membaca:
« سُبْحانَ المَلِكِ القُدُّوسِ، سُبْحانَ الملِكِ القُدُّوسِ، سُبْحانَ الملِكِ القُدُّوسِ »
"Maha suci Allah Yang Maha Merajai dan Maha Suci, Maha suci Allah Yang Maha Merajai dan Maha Suci, Maha suci Allah Yang Maha Merajai dan Maha Suci (HR. Nasa'i: 1701, 1729, dari Ubay ibn Ka'ab dishahihkan al-Albani; Ahmad: 15052, dari Abza dll)
 
Beliau mengeraskan suara dan membaca panjang khususnya pada bagian akhir atau kali yang ketiga. (HR. Abu Daud, Nasa'i: 1733, dishahihkan al-Albani; Ahmad: 15390, 15391, dishahihkan oleh Syu'eb al-Arna'uth. Lihat pula Misaykatul Mashabih: 1274)
 
Kemudian, setelah memanjangkan yang ketiga langsung menyambung dengan:
رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ.
'Tuhan malaikat dan ruh." «HR. Daruquthni 2/31 dengan sanad shahih. Lihat Zadul Ma'ad, tahqiq Abdul Qadir dan Syu'eb Arnauth, 1/337)
 
Selain itu atau setelah itu bisa saja membaca doa:
« اللهمَّ إنّي أَعُوذُ بِرِضاكَ مِنْ سَخْطِكَ، وَأَعُوذُ وَبمعافاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لا أَحْصِي ثناءً عَلَيْكَ أَنْتَ كما أَثْنَيْتَ على نَفْسِكَ »
"Ya Allah, aku memohon perlindungan (kepada-Mu) dengan ridha-Mu dari murka-Mu, aku memohon perlindungan (kepada-Mu) dengan 'afiyah (keselamatan) dari-Mu dari siksa-Mu, Dan aku memohon perlindungan dengan-Mu dari diri-Mu. Aku tidak kusa menghitung pujian atas-Mu. Engkau adalah sebagaimana Engkau telah memuji diri-Mu sendiri." (HR. Tirmidzi: 3566, Ahmad: 753)
 
Namun bisa juga di baca di waktu sujud, atau diakhir shalat witir.( HR Muslim: 1042, Tirmidzi, bab: 77, Ahmad: 23919, dll) (AR)*


[1] Ini catatan tambahan dari redadaksi
[2] Tambahan dari Redaksi.

0 komentar:

Copyright © 2012 BERSAMA MENAMBAH KEIMANAN.